Destria nur intan TUGAS RANGKUM BUKU PISIKOM,

 PENGERTIAN PISIKOLOGI

We can not not communicate (kita tidak dapat tidak berkomunikasi) adalah salah satu aksioma komunikasi. Apa arti pernyataan ini? Artinya, kita manusia tak dapat menghindar dari komunikasi. Setiap saat kita berkomunikasi. Bahkan ketika sendirian, kita mungkin melamun, berpikir atau memersepsi sesuatu dari lingkungan kita; itu pun merupakan komunikasi meskipun tidak tampil secara nyata. Sedang yang tampil nyata atau dapat diamati adalah ketika kita berinteraksi dengan seseorang atau orang-orang lain; ketika kita menyampaikan pesan kepada orang lain, memberikan respons, dan sekaligus menerima pesan dari orang lain. Dapat dikatakan komunikasi menyentuh segala aspek kehidupan kita. Contoh bahwa komunikasi ada di mana-mana adalah saat kita melamun, mengingat, berpikir, membaca koran, menonton tv, mengobrol dengan sahabat di sekolah, bercengkerama dengan anggota keluarga, saat seorang dosen memberikan kuliah kepada mahasiswanya di kelas, saat seorang kiai muda mengajak zikir bersama-sama di masjid, saat seorang salesman menjual barang, saat seorang pemuda mengirim surat cinta kepada kekasihnya, saat seorang kepala negara berpidato, dan masih banyak sekali contoh lainnya. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tak ada perilaku manusia yang dapat terpisahkan dari komunikasi. Bahkan, saat kita tidak ingin berkomunikasi pun, kita tak dapat menghindari komunikasi. Misalnya, Anda marah kepada orang-orang di rumah Anda. Anda mengatakan kepada mereka, ”Saya tak lagi mau berbicara dengan orang-orang di rumah ini!” Lalu Anda membanting pintu kamar, menguncinya, dan seharian tak keluar dari kamar Anda. Anda ingin memutuskan kontak dengan orang-orang serumah. Anda diam di kamar, merenung, mendengarkan musik, membaca komik atau makan makanan ringan seadanya di kamar. Anda mengatakan W PENDAHULUAN 1.2 Psikologi Komunikasi  kepada diri Anda bahwa Anda tak mau berhubungan dengan orang lain (artinya, seolah-olah, Anda tak mau berkomunikasi). Akan tetapi, sesungguhnya bantingan pintu kamar Anda, diamnya Anda seharian di kamar, atau musik yang terdengar dari kamar Anda, menunjukkan bahwa Anda berkomunikasi. Mengapa? Perilaku Anda itu menyampaikan pesan kepada orang serumah Anda bahwa Anda marah. Merespons pesan itu, mungkin saja orang-orang serumah mendiamkan Anda sambil berharap marah Anda segera surut, orang tua Anda mengetuk kamar Anda dan mengajak Anda bicara atau orang di rumah Anda menelepon pacar Anda untuk memintanya membujuk Anda agar tak lagi ngambek.

Psikologi adalah studi ilmiah mengenai perilaku dan proses mental (psychology is the scientific study of behavior and mental process) (Papalia & Olds, 1985; Weber, 1992). Mari kita lihat pengertian secara harfiah (menurut arti katanya). Kata ”psikologi” datang dari kata Latin psyche yang artinya jiwa/soul dan logos yang artinya kata atau wacana (word or discourse). Dalam definisi awal dikatakan bahwa psikologi adalah wacana mengenai jiwa (belakangan menjadi wacana mengenai pikiran atau mind). Behavior atau perilaku diartikan secara luas sebagai tindakan yang dapat diobservasi (diamati), seperti aktivitas fisik dan berbicara. Namun, psikologi juga memberi perhatian pada proses mental yang terjadi walaupun tak dapat diamati secara langsung, seperti orang memersepsi, berpikir, mengingat, dan merasa.

Sejarah Perkembangan Psikologi dari Zaman Yunani dan Romawi Kuno hingga Psikologi sebagai Ilmu Untuk mempermudah Anda memahami kaitan antara psikologi dan komunikasi, marilah kita pelajari sejarah psikologi. Sejarah psikologi dapat dilacak sejak masa kuno, ketika orang mulai mengajukan pertanyaan tentang hakikat manusia dan mencoba menjelaskan tentang perilaku manusia. Filsuffilsuf Yunani dan Romawi mulai membahas apakah pikiran itu dan di manakah letaknya. Misalnya, Aristoteles memperkenalkan konsep pikiran sebagai tabula rasa (keadaan kosong), yang tetap akan kosong sampai dengan ”ditulis” oleh pengalaman. Sembilan belas abad kemudian filsuf Inggris John Locke (1632-1704) mengadopsi istilah tersebut untuk mengekspresikan pandangannya mengenai pikiran manusia yang kemudian dikenal sebagai teori Tabula Rasa, artinya manusia dilahirkan ibarat selembar  SKOM4317/MODUL 1 1.7 kertas kosong. Pengalamanlah yang akan mencoret-coret kertas tersebut. Berlawanan dengan pandangan tersebut, filsuf Perancis Rene Descartes (1596-1650) menyatakan bahwa kita dilahirkan dengan gagasan dan kemampuan-kemampuan tertentu. Descartes berpandangan bahwa tubuh dan pikiran adalah dua bagian yang terpisah namun saling memengaruhi satu sama lain.

PSIKOLOGI KOMUNIKASI George A. Miller mengartikan psikologi komunikasi sebagai ”ilmu yang berusaha menguraikan, meramalkan, dan mengendalikan peristiwa mental dan behavioral (perilaku) dalam komunikasi”. Menguraikan berarti menganalisis mengapa suatu tindakan komunikasi dapat terjadi. Apa yang terjadi dalam diri kita sehingga tindakan itu muncul? Sedangkan meramalkan membawa kita pada pengertian bahwa dengan membuat generalisasi tertentu atas sejumlah perilaku tertentu yang dihubungkan dengan kondisi psikologis tertentu maka kita akan dapat meramalkan bentuk perilaku apa yang akan muncul jika suatu stimulus diberikan kepada orang dengan karakter psikologis tertentu. Ada pun mengendalikan adalah kita dapat melakukan campur tangan tertentu (memanipulasi) jika kita menginginkan atau tidak menginginkan suatu efek tertentu dari komunikasi yang terjadi. Berdasarkan definisi Miller di atas, terlihat bahwa dengan menggunakan psikologi komunikasi kita akan dapat menguraikan, meramalkan, dan mengendalikan peristiwa mental dan perilaku. Dalam konteks komunikasi, kemampuan ini merupakan sumbangan yang sangat berharga bagi tercapainya tujuan komunikasi yakni komunikasi yang efektif (berhasilguna). Dalam pembahasan mengenai fungsi komunikasi terlihat bahwa ada tiga tolok ukur untuk menyatakan bahwa komunikasi yang dilakukan berlangsung efektif yaitu (1) pemahaman diri sendiri dan orang lain, (2) mapannya hubungan sosial yang bermakna, dan (3) perubahan sikap dan perilaku. Psikologi komunikasi dibutuhkan untuk ketiga tujuan ini. Dalam kerangka yang agak berbeda, meski persamaannya juga terlihat, Tubbs dan Moss menyebutkan lima tolok ukur efektivitas komunikasi (Rakhmat, 1994).

Serikat Pekerja dan Hubungan Industrial Dr. Dra. Nina M. Armando, M.Si. uatu saat saya menonton sebuah film misteri beramai-ramai di rumah seorang teman. Saya dan dua teman lainnya ketakutan menonton film itu. Sebaliknya, seorang teman lainnya mengatakan bahwa film itu sama sekali tidak menakutkan. Saat saya dan teman saya ketakutan, ia justru tertawa geli karena menurutnya penampakan makhluk gaib di film tersebut lucu. Teman saya yang seorang lainnya berbeda pula pendapatnya. Ia mengeluh bosan menonton film tersebut. Menurutnya, film tersebut kurang punya greget sebagai film misteri. Pada kesempatan lainnya, saya dan teman-teman itu sama-sama membaca koran pagi yang baru datang. Kami membaca berita utama di halaman 1. Tanggapan kami terhadap berita itu berbeda-beda dan kami akhirnya berdiskusi seru tentangnya. Pernahkah Anda mengalami kejadian yang sama seperti itu? Pada peristiwa pertama dan kedua terlihat bahwa orang bisa memberi tanggapan yang berbeda-beda atas stimulus yang diterimanya walaupun stimulus itu sama. Pada peristiwa pertama, stimulus tersebut adalah film misteri. Pada kasus kedua, stimulus itu adalah berita utama di surat kabar. Manusia memberi makna sendiri atas setiap stimulus atau informasi yang diterimanya. Dalam ilmu komunikasi dikenal ungkapan words don't mean, people mean (kata-kata tidak memiliki makna; manusialah yang memberi makna). Setiap informasi yang berlainan akan diberi makna berlainan oleh orang yang berbeda. Dengan makna itulah manusia berinteraksi dengan lingkungannya. Jadi, makna sangat penting dalam berkomunikasi karena menjadi dasar untuk berinteraksi. S PENDAHULUAN 3.2 Psikologi Komunikasi

 ⚫ Saat menerima informasi, manusia akan memroses informasi tersebut dengan mengolahnya, menyimpan, dan suatu saat akan menggunakannya kembali. Proses ini terjadi dalam diri manusia dan karenanya disebut sebagai komunikasi intrapersonal. Proses ini meliputi sensasi, persepsi, memori, dan berpikir. Modul 3 ini akan membahas proses penerimaan dan pengolahan informasi yang terjadi dalam diri individu. Pembahasan akan dimulai dari proses penerimaan informasi yang paling awal yakni sensasi, yang kemudian diikuti dengan proses persepsi hingga proses menyimpan dan menggunakan kembali informasi tersebut. Setelah mempelajari modul ini Anda diharapkan mampu menjelaskan penerimaan dan pengolahan informasi dalam diri individu melalui apa yang disebut sensasi dan proses persepsi, aturan beserta teori-teorinya. Secara khusus, setelah mempelajari Modul 3 ini Anda diharapkan dapat menjelaskan: 1. proses sensasi; 2. proses persepsi; 3. faktor-faktor yang memengaruhi persepsi; 4. faktor-faktor yang memengaruhi perhatian; 5. memori dan berpikir; 6. jenis memori; 7. proses seleksi; 8. berpikir dan pemecahan masalah; 9. berpikir kreatif. Selamat belajar, semoga sukses! 

⚫ SKOM4317/MODUL 3 3.3 Kegiatan Belajar 1 Sensasi dan Persepsi etiap saat manusia menerima stimulus atau informasi dari luar dirinya dan kemudian diproses, diolah, disimpan dan pada suatu saat akan digunakan kembali. Dalam pendahuluan disebutkan bahwa penerimaan informasi yang paling awal adalah sensasi, kemudian diikuti proses persepsi hingga proses menyimpan dan menggunakan kembali informasi tersebut. Marilah kita awali pembahasan ini dengan proses sensasi dan proses persepsi. A. PROSES SENSASI Manusia selalu dikelilingi oleh berbagai macam sensasi. Ketika berada di sebuah kafe, misalnya telinga Anda menangkap suara (bunyi) alat musik atau hidung Anda mencium wewangian bunga. Ketika berada di pasar, sudut mata Anda menangkap seorang anak menangis mencari ibunya atau kulit Anda terasa basah oleh cipratan air pedagang sayur yang membasahi dagangannya agar sayurnya terlihat tetap segar. Apa yang dimaksud dengan sensasi? Sensasi merupakan tahap awal penerimaan pesan. Sensasi berasal dari kata sense, berarti alat indra, yang menghubungkan organisme dengan lingkungannya. Melalui alat indralah manusia memperoleh pengetahuan dan semua kemampuan untuk berinteraksi dengan dunianya. Jadi, sensasi adalah proses menangkap stimuli melalui alat indra. Dalam psikologi kognitif, kita mengacu pada dunia fisik (eksternal) sekaligus dunia mental internal). Penghubungan realitas internal dengan dunia mental berpusat di sistem sensorik. Sensasi (sensation) mengacu pada pendeteksian dini terhadap energi dari dunia fisik. Studi terhadap sensasi umumnya berkaitan dengan struktur dan proses mekanisme sensorik beserta stimuli yang memengaruhi mekanisme-mekanisme tersebut (Solso dkk, 2008). Kit

Memori dan Berpikir alam Kegiatan Belajar 1 telah dijelaskan bahwa ketika menerima informasi, manusia akan memroses informasi tersebut; mengolahnya, menyimpan, dan suatu saat akan digunakannya kembali. Proses yang terjadi dalam diri manusia ini melibatkan memori dan berpikir. Mari kita bahas kedua komponen tersebut. A. MEMORI “Tuhan memberikan kita memori sehingga dalam bulan Desember sekalipun (saat musim dingin) kita bisa tetap ceria.” Demikianlah kata J. M. Barrie, pengarang Peter Pan. Manusia mampu menyimpan ataupun mengingat informasi dari berbagai peristiwa yang dialaminya. Ingatkah ketika Anda mendapat teguran pedas oleh senior di masa awal kuliah? Anda mengingat bukan saja respons Anda, tetapi juga kapan dan di mana peristiwa itu terjadi, siapa senior yang menegur, bahkan mungkin pula Anda ingat warna baju yang dipakai si senior itu. Dalam kehidupan sehari-hari kita mengingat-ingat banyak hal seperti di mana letak dapur dan kamar mandi, bagaimana menyalakan mobil, bagaimana cara mendapatkan bis atau kereta api. Ini semua adalah contohcontoh sederhana. Pada tingkat yang lebih tinggi kita juga mengingat hal-hal yang lebih membutuhkan kerja otak seperti acara apa yang diagendakan untuk kerja esok hari. Manusia memiliki kemampuan untuk menyimpan informasi dan kemudian memanggilnya kembali jika diperlukan. Kemampuan untuk merekam, menyimpan atau memanggil kembali informasi inilah yang dimaksud dengan memori. Manusia memiliki kemampuan recall, suatu kemampuan unik yang hanya dimiliki manusia di antara makhluk hidup lainnya. Recall adalah kemampuan memanggil atau mengeluarkan kembali informasi dari memori. Memori adalah elemen pokok dalam sebagian besar proses kognitif (Solso dkk, 2008). Menurut Schlessinger dan Groves (1976), memori adalah D 3.26 Psikologi Komunikasi 

⚫ sistem yang sangat berstruktur, yang menyebabkan organisme sanggup merekam fakta tentang dunia dan menggunakan pengetahuannya untuk membimbing perilakunya. Memori memegang peranan penting dalam proses persepsi (dengan menyediakan kerangka rujukan) dan berpikir. Setiap kali stimulus mengenai pancaindra kita, kita akan merekam stimulus itu baik dengan sadar maupun tidak sadar. Secara singkat, memori adalah proses yang mencakup tiga tahap: 1. perekaman (encoding) yakni pencatatan informasi melalui indra penerimaan dan sistem syaraf internal. 2. penyimpanan (storage) yakni menentukan berapa lama informasi berada bersama kita, dalam bentuk apa, dan di mana. 3. pemanggilan kembali atau mengingat kembali (retrieval) yakni proses menggunakan informasi yang disimpan. Bagaimana memori bekerja? Mekanisme kerja memori dapat dijelaskan melalui tiga teori berikut. 1. Teori Aus (Disuse Theory): memori hilang atau memudar karena waktu seperti otot, memori kita baru kuat apabila dilatih terus-menerus. 2. Teori Interferensi: rekaman memori yang berikut akan menghapus atau mengaburkan memori yang tersimpan sebelumnya. 3. Teori Pengolahan Informasi: informasi mula-mula disimpan di sensory storage (gudang indrawi) lalu ke short-term memory (memori jangka pendek), lalu dilupakan atau dikoding untuk dimasukkan ke long-term memory (memori jangka panjang). Setelah Anda memahami pengertian memori dan mekanisme kerjanya, mari kita lanjutkan pembahasan kita pada jenis-jenis memori. 1. Jenis-jenis Memori Ada berbagai macam memori. Pertama, dapat dilihat dari jangka waktu penggunaannya. Kedua, dilihat dari jenis informasi yang disimpannya. Dilihat dari jangka waktu penggunaannya ada dua sebagai berikut. a. Memori jangka pendek (short-term memory). Memori ini adalah pengingatan informasi dalam waktu relatif sangat singkat. Misalnya, sebagai mahasiswa, Anda harus menghubungi seorang dosen untuk menanyakan nilai ujian Anda. Anda memutuskan untuk meneleponnya. 

 ⚫ SKOM4317/MODUL 3 3.27 Anda membaca deretan angka nomor telepon si dosen dan meneleponnya, tetapi hubungan telepon tidak tersambung. Beberapa waktu kemudian Anda mencoba menelepon dosen Anda kembali. Anda kembali melihat catatan Anda karena Anda sudah lupa nomor telepon yang tadi. Setelah Anda berhasil menghubungi sang dosen, saat itu pula kemungkinan Anda sudah lupa nomor telepon dosen Anda itu. Itulah ingatan jangka pendek. Kita menggunakan informasi itu untuk sesaat dan kemudian tidak dapat memanggilnya kembali, Anda sebut itu lupa. Itulah sebabnya, agar tidak lupa, Anda tadi mencatatnya. b. Memori jangka panjang (long-term memory). Ini adalah informasi yang diingat dalam waktu yang relatif panjang/lama. Memori jangka panjang bisa terjadi karena suatu informasi sering digunakan. Dengan demikian, penggunaan memori jangka pendek yang berulang-ulang akan menyebabkan memori jangka panjang. Misalnya, kalau Anda berulang kali harus menelepon dosen Anda di atas karena satu urusan, Anda pasti ingat nomor telepon dosen Anda itu. Setiap kali akan meneleponnya, Anda tidak perlu lagi melihat catatan. Begitu juga Anda ingat nomor telepon pacar Anda karena terlalu sering meneleponnya (bahkan di saat mengantuk sekalipun Anda mampu menyebutkan nomor teleponnya dengan lancar!). Kalau Anda belajar hanya dengan menggunakan SKS (sistem kerja semalam, artinya hanya belajar malam-malam menjelang ujian), ingatan Anda kemungkinan hanyalah jangka pendek, tetapi kalau Anda belajar berulang-ulang, kemungkinan besar Anda akan lebih mengingat materi yang harus dipelajari.


PENGERTIAN KOGNISI SOSIAL TENTANG DIRI DAN PENGEMBANGAN DIRI Psikolog sosial menggunakan istilah “kognisi sosial” (social cognition) untu menerangkan cara-cara kita menginterpretasi, menganalisis, mengingat, dan mengunakan informasi tentang dunia sosial (Baron & Byrne, 2004). Untuk dapat memahami dengan baik pengertian kognisi sosial tentang diri ini, Anda perlu menyimak secara cermat penjelasan berikut ini. Seperti yang dikatakan oleh William James, seseorang bisa menjadi objek pikirannya sendiri. Inilah kognisi sosial. Penjelasan mengenai social cognition (kognisi sosial) ini akan memudahkan pemahaman tentang social self. Kita melakukan proses yang oleh Gordon Allport disebut becoming, keti kita mengembangkan, memodifikasi, dan menyaring identitas personal dan pemahaman tentang diri sendiri ”diri” kita dan konsep kita tentang diri kita sendiri. Inilah yang dimaksud dengan self-development. Self-development kita kebanyakan terbentuk dari interaksi dengan orangorang terdekat kita di masa kanak-kanak. Orang-orang ini menjadi panutan (role models) bagi kita dalam bertindak, berpikir, dan merasa tentang diri sendiri. Mereka disebut sebagai significant others yaitu orang-orang yang memengaruhi perilaku, pikiran, dan perasaan kita. Konsep significant others ini datang dari George Herbert Mead, yang diartikan sebagai: orang lain yang D 4.24 Psikologi Komunikasi 

⚫ sangat penting artinya bagi diri seseorang. Mula-mula, mereka adalah orang tua, pengasuh, kakak, atau kerabat yang tinggal di rumah. Richard Dewey dan W.J Humber menyebut mereka dengan affective others yaitu orang lain yang dengan mereka, kita mempunyai ikatan emosional. Demikian pentingnya pembentukan self-development pada masa kecil ini, sebagaimana tergambar melalui sajak populer yang dig





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Eksponen dan logaritma